Warisan Budaya Tak Benda


PRESS RELEASE

Jakarta, 18 September 2019, Hotel Century Park, Senayan.

Yayasan Kampung Silat Petukangan kali ini dalam Kegiatan Rapat Tahunan UNESCO yang bertema "Training On Media Diversity" tahun 2019, bertempat di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta.

Kehadiran tersebut guna menampilkan pertunjukan Topeng Blantek, Rebana Biang, dan Silat Beksi dalam rangka menghibur disela waktu istirahat para anggota rapat dari belahan dunia seperti Cina, Swedia, Thailand, Italia, Inggris dan lain sebagainya.

Pagelaran tersebut mengambil tema 'Balada Kampung Silat Beksi Petukangan" arahan Nasir Mupid (Maestro Topeng Blantek) dan EM Nafis (Legenda Hidup Beksi Petukangan), dan dimainkan oleh Rido (Rojali) Dewi (Bodor), Yoga, Azka, Dimo (Silat Beksi). Diselingi Sholawat dan tabuhan Rebana Biang (SOJOG 57) serta dibantu oleh Aziz, Agus, Beben (Crew).

Disamping sebagai hiburan, pagelaran tersebut juga sekaligus memperkuat eksistensi Topeng Blantek, Rebana Biang, Silat Beksi sebagai karya budaya yang telah secara resmi ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Prov. DKI Jakarta oleh Kemendikbud RI dibawah pengawasan UNESCO.

Tokoh Jantuk dan Bodor serta keberadaan Sundung dan Obor menjadi daya pikat tersendiri bagi para hadirin rapat. Ditambah lagi dengan parade jurus Silat Beksi dan Tabuhan Rebana Biang dan Bacaan Sholawat yang membuat hadirin terpukau dan antusias menonton.

Klimaks inti dari tiap adegan yang dimainkan adalah ketika kekolotan dan keras kepalanya Si Jantuk terhadap pemikiran seni budaya yang membuatnya semakin tertinggal dan tenggelam, karena kurangnya pemanfaatan teknologi dalam hal ini media.

Padahal unsur-unsur itu merupakan bagian dari budaya yang hakikatnya adalah dinamis. Maka diharapkan sebagai generasi muda mampu menjaga kearifan budaya bangsa melalui keanekaragaman media dan teknologi.

(Rido, Humas Kampung Silat Petukangan)

Komentar